^ Ke Atas
 
 

BERITA FOTO

2013-04-23 : Kunjungan (Tamu Luar Negeri)

Kunjungan Dubes Jepang ke-1

2013-04-23 : Kunjungan (TNI & POLRI)

Kunjungan Panglima TNI Periode 98-99

2013-04-23 : Kunjungan (Birokrat dan Politisi)

Kunjungan Wakil Ketua MPR RI 09-14

2013-04-23 : Kunjungan (Musisi dan Budayawan)

Kunjungan Jamrud ke-1

Anda berada di: Depan > Makna Hijrah Dan Implementasinya Dalam Kehidupan
Makna Hijrah Dan Implementasinya Dalam Kehidupan
Diposting pada: 2013-11-05 09:32:21 | Hits : 2476 | Kategori: Pendidikan
 

Saat ini kita telah memasuki Tahun Hijriah 1435, mengandung pelajaran yang amat mendalam dan berharga pada nama tahunnya, yaitu hijrah, hampir semua orang Islam memahami bahwa arti hijrah tidak hanya berimigrasi dari Makkah ke Madinah berpindah dari negeri dzalim ke negeri damai (hijrah makani), tetapi juga merubah perilaku dari jahat menjadi baik (hijrah maknawiyah).

Semua peristiwa hijrah ini kemudian dirumuskan menjadi sebuah sikap umat dalam menghadapi tantangan dalam kehidupan dalam berbagai bentuk, diantaranya :


1. Meluruskan Niat
“Al-Muhajaroh” (Hijrah) sebagaimana dikatakan oleh Imam Ar-Raghib Al-Asfahani adalah keluar dari negeri kafir kepada negeri iman, sebagaimana para sahabat yang berhijrah dari Makkah ke Madinah. Dan Hijrah di jalan Allah itu, sebagaimana dikatakan oleh Muhammad Rasyid Ridho, harus dengan sebenar-benarnya. Artinya orang yang berhijrah dari negerinya adalah untuk mendapatkan ridho Allah dengan menegakkan agama-Nya yang merupakan kewajiban baginya, dan merupakan sesuatu yang dicintai Allah. Dalam sejarah, ada seorang sahabat yang berhijrah karena ingin menikahi ummu Qois, bukan karena niat ikhlas taat kepada Allah dan Rosulnya. Maka Rosulullah saw bersabda, “Bahwasannya semua amal itu tergantung niatnya, dan bahwasannya apa yang diperoleh seseorang adalah sesuai dengan apa yang diniatkannya. Barang siapa yang hijrah karena Allah dan Rosulnya maka hijrahnya itu akan diterima oleh Allah dan Rosulnya, dan barang siapa yang hijrahnya, karena mencari dunia atau karena wanita yang akan nikahinya maka hijrahnya itu hanya memperoleh apa yang diniatkannya dalam hijrahnya itu. (HR Bukhori dan Muslim). Hikmah yang harus kita ambil adalah bahwa segala aktifitas ibadah, dakwah dan bermasyarakat kita hanya semata-mata karena Allah, bukan karena yang lain, yaitu karena duniawi atau materi saja,sehingga kita akan bersungguh-sungguh dalam hidup dan kehidupan ini.


2. Meningkatkan Ketaatan kepada Allah swt dan Rasulullah saw

Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 97 yang berbunyi :

Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan Malaikat dalam Keadaan Menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) Malaikat bertanya : "Dalam Keadaan bagaimana kamu ini?". mereka menjawab: "Adalah Kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)". Para Malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?". Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali,

Ayat diatas turun sehubungan dengan kasus lima orang pemuda muslim yang bergabung dengan kafir Makkah, lalu mati mengenaskan di perang badar oleh pasukan kaum muslimin. Tempat mereka adalah neraka jahannam sebagaimana firman Allah di atas. Persoalan ini berkaitan dengan sikap mereka yang tidak mau berhijrah bersama Rosulullah dari Makkah ke Madinah. Mereka tidak mau mengerti akan makna hijrah sebagaimana yang dilaksanakan Rosulullah dan para sahabatnya yang setia dan taat. Mereka mengira bisa melakukan siasat dan strategi sendiri dengan cara menyembunyikan keislamannya dengan tetap bergabung bersama-sama kafir Qurasy. Padahal Allah dan rosul-Nya telah memerintahkan hijrah. Maknanya adalah ketaatan terhadap Allah dan rosul-Nya, adalah kewajiban yang harus dijalankan sekaligus sebagai kebutuhan.


3. Yakin dengan Pertolongan Allah swt.

Hijrah adalah rancangan dan strategi untuk melanjutkan perjuangan Dakwah Islam. Allah swt berfirman dalam surat Al-Anfal ayat 74 yang berbunyi :

Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka Itulah orang-orang yang benar-benar beriman.mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia.

Perjuangan yang dilalui Rosulullah dan para sahabat di Makkah tidaklah mulus dan ringan, tetapi jalan itu penuh onak dan duri, dan sangat berat sekali. Beliau dan kaum mukminin menerima berbagai cobaan, cercaan, teror, penyiksaan, propapaganda dan pembunuhan. Hal ini tidak hanya menimpa diri rosulullah, tetapi juga para sahabatnya. Kita tahu, kisah Bilal, keluarga Yasir (Yasir, Sumayah, Ammar bin Yasir), Abu Fakihah (budak Bani Abdid-Dar), Khabab bin Al-Art (budak Ummu Umar), dll. Daftar orang-orang yang disiksa karena mempertahankan agama Allah masih panjang. Bahkan Rosulullah dan para sahabat diboikot ekonomi selama tiga tahun, sehingga kekurangan pangan, kelaparan dan timbulnya penyakit. Bahkan diantara mereka ada yang menjadi syahidah sebelum peristiwa hijrah Nabi. Oleh karenanya Hijrah adalah salah satu pertolongan Allah untuk mengembangkan dakwah, setelah berjuang dengan sekuat tenaga, dengan sepenuh jiwa dan segenap hartanya, maka yakinlah pertolongan Allah pasti datang.


4. Memperkokoh Persaudaraan dan Persatuan

Berkenaan dengan peristiwa hijrah, rosulullah juga berhasil mempersatukan suku Aus dan Suku Kahraj yang sebelumnya saling bermusuhan. Mereka dipersatukan dengan dasar aqidah islam. Rosulullah juga mempersaudarakan kaum Muhajirin dan kaum Anshor. Persaudaraan ini semata-mata berdasarkan aqidah yang sama. Langkah ini untuk menegaskan, bahwa ikatan persatuan dan persaudaraan kaum muslimin haruslah berdasarkan aqidah, bukan berdasarkan kesukuan, kedaerahan, kemaslahatan, kebangsaan dan sebagainya yang bermuara pada ikatan kejahiliyahan.
Makna persaudaraan ini menurut Muahmmad Al-Ghazaly, agar fanatisme Jahiliyah menjadi cair dan tidak ada sesuatu yang dibela kecuali Islam. Disamping itu, agar perbedaan-perbedaan keturunan, warna kulit dan daerah tidak mendominasi, agar seseorang tidak merasa lebih unggul dan merasa lebih rendah kecuali karena ketaqwaanya. Rosulullah saw menjadikan persaudaraan ini sebagai ikatan yang benar-benar harus dilaksanakan, bukan sekedar ucapan semata, lalu setelah itu hilang tak berbekas. Al-Bukhory meriwayatkan bahwa tatkala Muhajirin tiba di Madinah, maka Rosulullah saw mempersaudarakan antara Abdurrahman bin ‘Auf dengan Sa’d bin Ar-Rabi’. Sa’d berkata kepada Abdurrahman : ”Sesungguhnya aku adalah orang yang paling banyak hartanya dikalangan Anshor. Ambillah separoh hartaku itu menjadi dua. Aku juga mempunyai dua istri. Maka lihatlah mana yang engkau pilih, agar aku bisa menceraikannya. Jika masa iddahnya habis, maka kawinilah ia”. Itulah gambaran indah, dari persaudaraan mereka. Ini menunjukkan kaum Anshor yang rela berkorban, mencintai, dan menyayangi saudaranya. Maka hal inilah yang harus kita upayakan dilingkungan kita dalam rangka membangun kebersamaan, solidaritas sosial adanya kepedulian diantara sesama.


5. Mengoptimalkan Fungsi dan Peran Masjid

Langkah pertama yang dilakukan rosulullah adalah membangun masjid, Masjid yang dibangun bukan sekedar sebagai tempat sholat semata, tetapi juga sebagai madrasah tempat transfer ilmu dan bimbingan, sebagai balai pertemuan, tempat pelayanan sosial kemasyarakatan, pemberdayaan ekonomi umat dll, yang mencerminkan peran dan fusngsi masjid sesungguhnya. Maka unsur terpenting dari itu semua adalah pengurus dan jama’ah dalam arti pengurus berberan aktif menjalankan tugas dan amanahnya sebagai pengurus sesuai dengan kapasitasnya, dan jama’ah juga berperan aktif dalam pemakmuran masjid dalam bentuk mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh pengurus masjid dan bantuan dana.  


Peristiwa hijrah Rosulullah memang telah berlalu selama 1435 tahun. Tetapi makna dan spirit hijrah harus tetap tertanam dalam hati dan jiwa kaum muslimin. Kaum muslimin harus ”berhijrah” dengan meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah menuju kepada ketaatan kepada Allah swt, sebagaimana sabda Rosulullah saw, ”Orang yang berhijrah adalah yang (meninggalkan) apa-apa yang dilarang oleh Allah swt. (HR Bukhori). Wallohu a’lam bi ashshowab.

 

Sumber : Link

 

Posting Lainnya:

KOMENTAR

« Kembali

MUTIARA HADIST
Membahagiakan Saudara Kita :
Rasulullah Bersabda, 'Barangsiapa Berjalan Memenuhi Keperluan Saudaranya Dan Menyampaikan Keinginannya, Maka Itu Lebih Besar (pahalanya) Daripada Iktikaf Di Masjid Selama 10 Tahun, Sedangkan Orang Yang Iktikaf Satu Hari Untuk Mencari Keridhaan Allah, Maka Allah Akan Jadikan Penghalang Antara Ia Dan Neraka Tiga Parit Yang Jauhnya Lebih Dari Dua Ufuk Timur Dan Barat'.

 

 

Powered by: GaluhCMS | Hosted by: GaluhWeb