ESSENSI PEMIMPIN
- Beranda
- Konten
- Artikel
- Asep Awaludin Ramdani
- Juma't, 15/03/2019
- Umum
- 1696 hits
Tak ayal lagi, pemimpin adalah suatu keniscayaan. Apalagi, dalam urusan kebangsaan dan kenegaraan. Kehadiran dan kedudukan pemimpin sangat penting dan strategis. Dalam sebuah riwayat dari Abu Sa'id al-Khudri RA bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, "Apabila ada tiga orang pergi safar, hendaklah mereka mengangkat satu di antaranya sebagai pemimpin."
Dalam memahami hadis tersebut, Syekh Islam Ibn Taimiyah mengatakan, "Jika Nabi SAW mewajibkan jamaah atau perkumpulan dengan jumlah yang kecil supaya mengangkat seseorang di antara mereka sebagai pemimpin, artinya kewajiban yang sama juga berlaku bagi jamaah atau perkumpulan yang lebih besar."
Secara bahasa, pemimpin berarti orang yang berada di depan, orang yang dipatuhi dan diikuti. Ada pun secara istilah, di antara definisi pemimpin adalah sebagai berikut, "orang yang menjaga agama dan mengelola dunia dengan agama." Definisi ini disampaikan oleh para ulama dan pemikir Muslim populer, seperti Imam Mawardi, Ibn Khaldun, dll.
Alquran membagi tipologi pemimpin menjadi dua bagian. Pertama, pemimpin durhaka yang mengajak manusia kepada neraka. (QS al-Qashash [27]:41). Kedua, pemimpin yang memberi pencerahan kepada umat manusia, yaitu pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Allah SWT. (QS al-Anbiya [21]:73).
Pasalnya, kepemimpinan dan kekuasaan dalam perspektif Islam hanya sebatas sarana, bukan tujuan. Sedangkan esensi dari tujuan-tujuan kepemimpinan atau kekuasaan ini ialah menegakkan perintah Allah SWT di muka bumi sesuai dengan ketentuan syariat- Nya, memerintahkan dan menebarkan segala kebajikan sekaligus mencegah dan menghentikan segala bentuk kerusakan. (QS al-Hajj [22]:41).
Dalam konteks Indonesia, pengertian dan prinsip ini tentu sejalan dengan spirit falsafah Pancasila dan UUD 1945. Secara normatif, lima butir Pancasila yang meliputi tauhid, kemanusian yang adil dan beradab, persatuan, syura, dan keadilan sosial, semuanya senapas denggan norma agama.
Pemilu adalah proses demokrasi untuk memilih pe mimpin terbaik yang seyogianya mampu memimpin bang sa untuk me wujudkan negara Indonesia yang berdaulat, maju, adil, makmur, aman sentosa, dan bermartabat.
Karenanya, ajang demokrasi ini, baik pemilihan pre siden (pil pres) ataupun pemilihan legislatif (pileg) hendak nya dilaksanakan dengan keadaban, saling menghormati, mengutamakan persa tuan dan persaudaraan di atas tujuan kekuasaan. Termasuk bagi pihak-pihak penyelenggara pemilu hendaklah istiqamah menyelenggarakan hajat nasional ini dengan dedikasi dan integritas total yang ditandai dengan profesionalisme, ke adillan, kejujuran, dan amanah.
Semua pihak dituntut menghindari semaksimalkan mungkin celah-celah yang dapat menodai pemilu yang mahal dan berharga ini. Kecurangan, seperti politik uang, manipulasi data, kampanye hitam, dan seumpanya seeloknya tidak terjadi. Dalam ajaran Islam, sesuatu yang baik (alkhair) hendaklah diraih dengan cara-cara yang baik dan benar.
Pemilu 2019 ini adalah kesempatan bagi kita sebagai rakyat untuk berpartisipasi memilih dan menentukan pemimpin terbaik. Di antara kriteria pemimpin terbaik, menurut Alquran dan sunah Nabi SAW, adalah beriman kepada Allah, kuat agamanya, kuat ilmunya, kuat fisiknya, dan kuat integritasnya (adil, jujur, dan amanah).
Mudah-mudahan, pemilu tahun ini berjalan dengan baik dan sukses. Melahirkan para pemimpin ideal, sungguh-sungguh, dan tanggung jawab. Sehingga, mampu membawa kemaslahatan, kemajuan, dan kemenangan bagi agama, umat, bangsa, dan negara ini. Wallahu Al-Musta'an.
Sumber : Link
: tanpa label
KOMENTAR
Artikel Lainnya:
- Kamis, 21/03/2019 Jangan Makan Riba, Berat, Kamu Gak Akan Kuat !
- Sabtu, 30/03/2019 Bersolek Yang Diperbolehkan Bagi Muslimah
- Rabu, 27/03/2019 Al-Adiliyah Damaskus, Sekolah Elit Para Cendekiawan Muslim
Bagaimana pendapat Anda mengenai informasi yang disampaikan dalam website ini ?
Halal Dan Haram Itu Sudah JELAS
Abu Abdillah Nu'man Bin Basyir Ra Berkata: Aku Mendengar Rasulullah SAW Bersabda, "Sesungguhnya Yang Halal Itu Telah Jelas Dan Yang Haram Pun Telah Jelas. Sedangkan Di Antaranya Ada Masalah Yang Samar-samar (syubhat) Yang Kebanyakan Manusia Tidak Mengetahui (hukum)-nya. Barangsiapa Menghindari Yang Samar-samar, Maka Ia Telah Membersihkan Agama Dan Kehormatannya. Barangsiapa Yang Jatuh Ke Dalam Yang Samar-samar, Maka Ia Telah Jatuh Ke Dalam Perkara Yang Haram. Seperti Penggembala Yang Berada Di Dekat Pagar (milik Orang Lain); Dikhawatirkan Ia Akan Masuk Ke Dalamnya. Ketahuilah Bahwa Setiap Raja Memiliki Pagar (aturan). Ketahuilah, Bahwa Pagar Allah Adalah Larangan-larangan-Nya. Ketahuilah, Bahwa Di Dalam Jasad Manusia Terdapat Segumpal Daging. Jika Ia Baik, Maka Baik Pula Seluruh Jasadnya; Dan Jika Ia Rusak, Maka Rusak Pula Seluruh Jasadnya. Ketahuilah Bahwa Segumpal Daging Itu Adalah Hati."

